Senin, 01 Februari 2016

MAUT: PROLOG

Pukul 11 malam. Gelap sudah menyelimuti seluruh wajah kota Harvest City di Timur Cibubur. Kota Mandiri terbesar yang pernah ada di Timur Jakarta. Tidak ada bintang. Bulan pun sedang bersembunyi entah di balik awan yang mana. Semua penduduk sudah mengunci pintu rapat-rapat. Menarik gorden. Mematikan lampu ruang tamu. Rerumputan basah. Tadi baru saja selesai hujan. Hawa dinginnya sesekali menyentuh kulit, rasanya lembut, seperti bulir-bulir sutera yang diterbangkan angin bekas kepakan sayap-sayap merpati. Namun, suasana di dalam rumah masih sangat ramai. Dentingan piring di meja makan. Suara obrolan dan tawa anak-anak. Della (anak pertama saya) masih asyik nonton televisi di ruang belakang. Sementara Lima (istri saya) dan Zain (anak terakhir saya) masih duduk-duduk di meja makan sejak selesai makan malam pukul 20.00 WIB tadi. Entah apa yang sedang mereka lalukan. Itu kebiasaan yang tidak begitu jelek yang sering mereka lakukan sejak dua tahun terakhir ini.

Saya pun masih duduk di kursi tua di dalam kamar sambil menghadap jendela yang terbuka.

Usia saya sudah 62. Satu tahun lagi jatah hidup dari Nabi.
 

© Copyright by MAUT | Template by BloggerTemplates | Blog vio at Blog-HowToTricks