Di suatu siang yang cukup panas. Seorang gadis muda cantik energik mengemudi kendaraan pribadinya melewati jalan besar pertigaan Fatmawati. Karena kehausan Ia membangunkanku yang sedang tidur pulas di jok belakang. Ia memegang pinggangku erat, lalu membuka topiku dan mengecap bibirku beberapa kali hingga perutku kosong. Aku sangat terkejut. Tak lama berselang aku terlempar ke bawah sinar matahari, membentur pelipis jalan, menggelinding di tengah-tengah aspal yang panas. Dari arah belakang tiba-tiba sepasang muda-mudi mengendarai motor ugal-ugalan, menyerempet, dan melumatkan kepalaku menjadi tak berupa. Aku menangis. Tak berapa lama kemudian kontainer milik sebuah perusahaan juga ikut meramaikan kisahku ini, hingga aku benar-benar mati dan tak layak lagi disebut sebuah botol yang berarti. Ingin aku meminta tolong, namun manusia sekarang tak banyak yang mendengar. Percuma saja. Entak mereka bodoh atau memang sedang sakit hati. Hanya seorang pemulung yang bisa mengerti aku, menyingkirkan tubuhku dari badan jalan, dan memasukkanku perlahan kedalam keranjang bersama teman-temanku. Ia memanggulku hingga sampai di rumahnya yang sangat sederhana.
Qin Mahdy, November 2009


aku suka pemilihan katanya, hiperbola & melebih2 kan peneritaan si botol
BalasHapus